Kamis, 23 Oktober 2008

Poligami Menurut Fiqih Sunni

A. Pendahuluan
Sejarah tersiarnya suatu mazhab dalam Al-Fiqhul Islamy di suatu negri di dunia Islam biasanya sedikit banyak adalah bertalian erat dengan sejarah penyiaran agama Islam di negri itu sendiri. Ajatan-ajaran agama Islam yang disiarkan oleh mubalighin pertama sangat dipengaruhi oleh faham mazhab mereka. Begitupun yang terapat dalam aliran fikih. Di dalam aliran fikih yang sangat terkenal adalah fiqih sunni, di mana di dalam fikih sunni terdapat imam mazhab sunni diantaranya Imam Hanafi, Imam Maliky, Imam Syafi'I, Imam Hambali. Dalam fiqih sunni, terutama yang dianut oleh empat mazhab yang mereka miliki banyak diikuti, adapun perbedaan yang terdapat pada setiap mazhab bukan pada hal aqidah tapi lebih pada tata cara ibadah.

B. Biografi Empat Mazhab

 Imam Hanafi
Imam Abu Hanifah, pendiri mazhab Hanafi, adalah Abu Hanifah An-Nu'man bin Tsabit bin Zufi At-Tamimi. Beliau masih mempunyai pertalian hubungan kekeluargaan dengan Imam Ali bin Abi Thalib ra. Tak heran, jika kemudian dari keturunan Tsabit ini, muncul seorang ulama besar seperti Abu Hanifah. Dilahirkan di Kufah pada tahun 80 H/ 699 M, pada masa pemerintahan Al-Qalid bin Abdul Malik,. Sejak masih kanak-kanak , beliau telah mengkaji dan menghafal al-Qur'an. Dalam memperdalam pengetahuannya tentang al-Qur'an beliau sempat berguru kepada Imam Asin, seorang ulama terkenal masa itu. Selain memperdalam al-Qur'an, beliau juga aktif mempelajari ilmu fiqih.

Dalam hal ini kalangan shahabat Rasul, diantaranya kepada Anas bin Malik, Abdullah bin Aufa dan Abu Tufail Amir, dan lain sebagainya. Dari mereka, beliau juga mendalami ilmu hadis. Beliau juga dikenal sebagai orang yang sangat tekun dalam mempelajari ilmu. Sebagai gambaran, beliau pernah belajar fiqih kepada ulama yang paling terpandang pada masa itu, yakni Humaid bin Abu Sulaiman. Imam Abu Hanifah wafat pada tahun 150 H/ 767 M, pada usia 70 tahun. Beliau dimakamkan di pekuburan Khizra. Pada tahun 450 H/ 1066 M, didirikanlah sebuah sekolah yang diberi nama Jami' Abu Hanifah.

Dasar-Dasar Mazhab Imam Hanafi
Adapun dasar-dasar mazhab Imam Hanafi adalah, sebagai berikut: Al-Qur'an al-Karim, Sunnah Rasulullah saw dan atsar-atsar yang shahih serta telah mahsyur di antara para ulama yang ahli, fatwa-fatwa dari Shahabat, qiyas, Istihsan, adat yang telah berlaku di dalam masyarakat Islam. Pemaparan di atas merupakan dasar-dasar mazhab Imam Hanafi yang sebenarnya, sebagaimana telah diketahui oleh para ulama ahli ushul fiqh.

Kitab-Kitab Karangan Imam Hanafi
1. Kitab al-Musuan (kitab hadis).
2. Kitab Al-Makharij.
3. Kitab Fiqhul Akbar.

 Imam Maliki
Imam Malik bin Anas , pendiri mazhab Maliki, adalah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir Al-Ashbahy dilahirkan di Madinah pada tahun 93 H. Beliau berasal dari Kablah Yamniah. Sejak kecil beliau telah rajin menghadiri majlis-majlis ilmu pengetahuan, sehingga sejak kecil itu pula beliau telah hafal al-Qur'an. Tak kurang dari itu, ibundanya sendiri yang mendorong Imam Malik untuk senantiasa giat menuntut ilmu. Pada mulanya beliau belajar dari Ribiah, seorang ulama yang sangat terkenal pada waktu itu. Selain itu, beliau juga memperdalam hadis kepada Ibn Syihab, di samping juga mempelajari ilmu fiqih dari para shahabat. Karena ketekunan dan kecerdasannya, Imam Malik tumbuh sebagai seorang ulama yang terkemuka, terutama dalam bidang ilmu hadis dan fiqih.

Meski begitu, beliau dikenal sangat berhati-hati dalam memberi fatwa. Beliau tak lupa terlebih dahulu meneliti hadits-hadits Rasulullah saw, sebelum kemudian memberikan fatwa atas suatu masalah. Melihat pemaparan di atas kita bisa mengetahui bahwa Imam Malik seorang ulama yang sangat terkenal terutama dalam bidang fiqh dan ilmu hadits. Dalam bidang ilmu hadits beliau bahkan menulis kitab al-Muwattha yang merupakan kitab hadits yang sangat terkenal. Imam Malik meninggal pada hari minggu, 10 Rabiul awal 179 H atau 798 M, dalam usia 87 tahun.

Dasar-dasar Mazhab Imam Maliki
Adapun dasar-dasar Imam Maliki adalah sebagai berikut: Al-Quranul Karim, Hadits Rasul, Ijma' para Ulama, Qiyas, dan istihlah atau Masalihul Mursalah.

 Imam Syafi'i
Imam Syafi'I yang dikenal sebagai pendiri mazhab Syafi'I adalah Muhammad ibn Idris al-Syafi'I al-Quraisyi, beliau dilahirkan di Ghazah 150 H, bertepatan dengan wafatnya Imam Abu Hanifah. Beliau dibesarkan dalam keadaan yatim dan dalam satu keluarga yang miskin. Sebaliknya, beliau giat mempelajari hadits dari ulama yang berada di Makkah. Pada usia yang masih muda beliau sudah menghafal al-Quran. Lalu pada usia kedua puluh, beliau meninggalkan Makkah untuk mempelajari ilmu Fiqh dari Imam Malik dan Imam abu Hanifah. Setelah wafat Imam Malik, beliau menetap dan mengajarkan ilmu di Yaman. Lalu beliau diundang oleh Harun al-Rasyid ke Baghdad. Pada tahun 198 H beliau pergi ke negeri Mesir, dan mengajar di Mesjid Amr ibn 'ash, hingga akhirnya wafat pada tahun 204 H.

Dasar-dasar Mazhab Imam Syafi'i
Dasar-dasar Imam Syafi'I telah tertulis dalam kitabnya al-Risalah yang kesimpulannya sebagai berikut: 1. al-Quran, 2. Hadits Nabi, 3. Ijma', 4. Qiyas, 5. Istidlal.

Adapun kitab-kitab karangan Imam Syafi'I adalah:
1) Al-Risalah
2) Al-um
3) Ikhtilaf al-Hadits
4) Kitab al-Musnad
5) Jami'u al-Ilmi

 Imam Hambali
Imam Ahmad Hambali adalah pendiri mazhab Hambali, dengan nama asli Abu Abdullah Ahmad ibn Muhammad ibn Hilal al-Syaibani. Beliau lahir di Baghdad pada bulan Rabiul Awal tahun 164 H atau 780 M. ahmad ibn Hambal dibesarkan dalam keadaanna yatim oleh ibunya. Sedangkan ayahnya meninggal ketika beliau masih bayi. Sejak kecil itu pula beliau telah menunjukkan minat yang besar terhadap ilmu pengetahun, yang mana pada saat itu Baghdad merupakan pusat ilmu pengetahuan. Di Baghdad beliau memulai belajarnya dengan menghafal al-Quran, lalu belajar bahasa Arab, hadits, sejarah nabi dan sejarah shahabat serta tabi'in. Dan untuk memperdalam ilmunya beliau pergi ke Bashrah dan bertemu dengan Imam Syafi'i. Selain Bashrah, Imam Hambali juga menjadikan Mesir dan Yaman sebagai tempat menimba ilmu.

Guru-guru Imam Hambali antara lain: Yusuf Hasan ibn Ziyad, Husyaim, Umair, Ibn Umam dan Ibn Abbas. Imam Hanbal banyak mempelajari dan meriwayatkan hadits. Beliau tidak akan mengambil hadits kecuali hadits shahih. Beliau wafat di Baghdad pada usia 77 tahun, tepatnya pada tahun 241 H atau 855 M.

C. Poligami menurut empat Mazhab
                              

Artinya:
Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil[265], Maka (kawinilah) seorang saja[266], atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

Makna ayat

Tuqsithu ( تقسطوا ) dan ta’adilu ( تعد لوا ) yang keduanya diterjemahkan “ adil”. Sedangkan pada kalimat( ما ملكت ايمانكم ) "ma malakat aimanukum" diartikan dengan budak-budak yang kamu miliki.

Dalam memahami ayat poligami di atas, imam Syafi’i, Hanafi, Maliki dan Hambali berpendapat bahwa seorang suami boleh memiliki istri lebih dari satu, karena dalam agama Islam seseorang laki-laki dibolehkan mengawini lebih dari satu tetapi dibatasi hanya sampai empat orang istri. Akan tetapi kebolehannya tersebut memiliki syarat yaitu berlaku adil antara perempuan-perempuan itu, baik dari nafkah atau gilirannya.

Para imam di atas juga memberikan saran, apabila tidak bisa berlaku adil, hendaknya beristri satu aja itu jauh lebih baik. Para ulama ahli Sunnah juga telah sepakat, bahwa apabila seorang suami mempunyai istri lebih dari empat maka hukumnya haram. Dan perkawinan yang kelima dan seterusnya dianggap batal dan tidak sah, kecuali suami telah menceraikan salah seorang istri yang empat itu dan telah habis pula masa iddah-nya. Dalam masalah membatasi istri empat orang saja, Imam Syafi’i berpendapat bahwa hal tersebut telah ditunjukkan oleh Sunnah Rasulullah saw sebagai penjelasan dari firman Allah, bahwa selain Rasulullah tidak ada seorangpun yang dibenarkan nikah lebih dari empat perempuan. sedangkan pada ayat dzalika ‘adna an la ta ‘ulu dipahami oleh Imam Syafi’i dalam arti tidak banyak tanggungan kamu. Ia terambil dari kata ‘ala ya ‘ulu yang berarti “menaggung dan membelanjai”.

Para ulama ahli Sunnah dalam hal membatasi istri empat orang saja, merujuk pada dalil dari sunnah Rasulullah saw adalah hadis yang diriwayatkan oleh Qois bin al-Harits ra, beliau berkata:
حد ثنا احمد بن ابراهيم الدورقي, ثنا هشيم عن ابن ابي ليلى , عن حميضة بنت الشمرد ل, عن قيش بن الحارث قال: اسلمت وعند ى ثما نين نسوة. فا تيت النبي صلى الله عليه وسلم: فقلت ذ لك , فقال: اختر منهن اربعا. رواه ابن ماجه

Artinya: “Ketika masuk Islam saya memiliki delapan istri, saya menemui Rasulullah dan menceritakan keadaan saya, lalu beliau bersabda: “Pilih empat diantara mereka”.

Selain penjelasan dari empat mazhab di atas, disini juga terdapat penafsiran surat An-Nisaa ayat 3 oleh para mufassir. Pada ayat di atas Ali Ash-Shabuni berpendapat, bahwa ayat tersebut menunjukkan haramnya nikah lebih dari empat, pendapat beliau ini merujuk pada pendapat para ulama dan ahli fiqih. Dan tidak setuju dengan pendapat ahli bid’ah yang membolehkan nikah dengan sembilan wanita, dengan mengingat bahwa huruf wawu و adalah untuk menambah dan bahwa yang dimaksudkan adalah seseorang itu boleh mengumpulkan dua dan tiga dan empat. Al-Qurthubi berpendapat, bahwa sebenarnya bilangan dua, tiga, atau empat, ini bukan menujukkan diperbolehkannya mempunyai sembilan istri, seperti yang dikatakan oleh orang yang tidak memahami al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena pendapat mereka itu telah menyimpang dari pendapat para ulama.

Dan mereka juga berpendapat bahwa huruf wawu (و)disitu berfaedah untuk mengumpulkan, mereka berpendapat seperti itu dengan alasan bahwa Nabi saw juga menikah dengan sembilan istri. Bahkan, sebagian dari mereka berpendapat lebih parah lagi, yaitu boleh mempunyai delapan belas istri. Pendapat mereka itu sudah jauh dari sunnah dan ijma’ ulama. Jadi pada dasarnya al-Qurthubi sepakat dengan Ali Ash-Shabuni bahwasanya haran mempunyai istri lebih dari empat. Lain halnya dengan Az-Zamakhsyari, dalam memahami kata مثنى, ثلاث, ورباع, beliau berpendapat bahwa apabila khitabnya adalah untuk semua, maka harus ada pengulangan, supaya masing-masing orang yang ingin menikah yang menghendaki poligami, mendapatkan bilangan yang diinginkannya. Karena jika tidak ada pengulangan, tentu maknanya tidak dipahami.

D. Sekilas tentang Poligami Rasulullah saw
Setiap orang yang mempelajari dengan jujur dan objektif sejarah kehidupan Nabi, khususnya tentang perkawinan beliau, pasti akan mengerti bahwa sesungguhnya motivasi yang mendasar dari setiap perkawinan Nabi saw adalah ‘islamisasi’ yang merupakan tugas utama beliau. Ekspresi dakwah itu tercermin dalam segala kreatifitas Nabi, baik berupa perkataan maupun tindakan nyata. Dari motivasi dasar yaitu dakwah, ada juga motivasi lain, seperti politik, sosial, kemanusian, dan akhlak. Namun, dari semua itu tujuan yang paling utama adalah dakwah, sebab poligami seperti, tentu saja dapat mengangkat harkat kemanusiaan, menciptakan kehidupan yang lebih baik dan meningkatkan kesempurnaan akhlak.

Berikut akan dikemukakan beberapa hikmah perkawinan dan poligami Nabi, diantaranya:
 Membantu Islam
 Menolak Fitnah Orang-Orang Musyrik
 Penyebaran Ajaran dan Hukum-Hukum Islam serta Penghargaan terhadap Abu Bakar
 Loyalitas terhadap Wanita dan Penghargaan terhadap Umar Ibn Khattab
 Merombak Warisan Budaya Jahiliyah
 Membebaskan Perbudakan
 Menolong Anak-Anak Yatim
 Mendorong Wanita untuk Berakhlak dan Berhati Mulia
 Melunakkan Hati Sebagian Pemimpin Musyrik
 Pendekatan Politis

Hal ini itu membuktikan beliau berpoligami bukan karena dorongan syahwat, tetapi untuk kepentingan pelaksanaan syari’at dan urusan politik serta kemanusiaan. Berikut ini akan dirinci beberapa Nama istri Rasulullah:
1. Khadijah binti Khuwailid
2. Aisyah binti Abu Bakar
3. Saudah binti Zum’ah
4. Zainab binti Jahasyi al-‘Asadiyah
5. Ummu Salamah binti Abi Umayyah bin al-Mughirah
6. Hafsah binti Umar bin Khattab
7. Ummu Habibah Ramlah binti Abi Sufyan bin Harb
8. Juwairiyyah binti al-Harits al-Khuzaiyyah
9. Shafiyyah bin Hayyi bin Akhtab
10. Maimunah binti al-Harits
11. Zainab binti Khuzaimah ibnul harits
12. Asma binti an-Nu’man al-Kindiyyah
13. Umrah binti Yazid al-Kilabiyyah

Kesimpulan:
Setelah menjelaskan dan memaparkan tentang poligami di atas, dapat disimpulkan bahwa boleh berpoligami paling banyak hingga empat orang istri. Dan disyari’atkan dapat berbuat adil diantara istri-istrinya, barang siapa yang belum mampu berbuat adil, dia tidak boleh menikah lebih dari satu istri. Apabila sesorang laki-laki tidak dapat berlaku adil tetapi tetap melakukan poligami, dikatakan bahwa akad nikahnya sah tetapi dia telah berbuat dosa. Keadilan yang diisyari’atkan oleh ayat di atas mencakup keadilan tempat tinggal, makan, dan minum serta perlakuan lahir batin.

DAFTAR PUSTAKA

Abduttawwab Haikal, Rahasia Perkawinan Rasulullah SAW( Poligami dalam Islam dan Monogami Barat), Jakarta: CV Pedoman Ilmu Jaya, 1993.
Abdullah Muhammad bin Yazid al-Qazwini, Sunan Ibnu Majah, Libanon: Darul Fikri, 1995.
Abi Abdullah Muhammad al-Anshari al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, Libanon: Darul Fikri, 1978.
Az-Zamakhsyari, Al-Kasyaf an Haqaiqat Tanzil wa Uyunil Aqawil fi Wujuh At-Ta’wil.
KH. Moenawar Khalil, Biografi Empat Serangkai Imam Mazhab, Jakarta: Bulan Bintang, 1955.
M. Quraisy Shihab, Tafsir al-Misbah, Jakarta: Lentera Hati, 2000.
Muhammad Ali-Ash Shabuni, Rawaa’iyul Bayan, Semarang: CV. Adhi Grafika, 1993.
Muhammad Jawad al-Mugniyah, Fiqih Lima Mazhab, Jakarta: Penerbit Lentera, 1996.
Musafir Husain Aj-Jahrani, Poligami dari berbagai Persepsi, Jakarta:Gema Insani Press, 1996.
Prof. Dr. H. Mahmud Yunus, Hukum perkawinan dalam Islam menurut Mazhab Syafi’i, Hanafi, Maliki, dan Hambali, Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1996.
Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Bandung: Al-Ma’arif, 1996.
Syeikh Muhammad Ali Ash-Shabuni, Persepsi-Persepsi Dusta dan Bathil tentang Kasus Poligami Rasulullah SAW, Jakarta:PT Bulan Bintang, 1988

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Posting Terkini