Tampilkan postingan dengan label Makalah Ilmu Sosiologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makalah Ilmu Sosiologi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Oktober 2008

REVOLUSI INDUSTRI, HIJAU, DAN BIRU

A. Revolusi Industri

Revolusi industri bukan merupakan suatu proses yang terjadi secara mendadak, melainkan proses sejarah yang terjadi sebelumnya.
Pengertian Revolusi Industri merujuk dua hal :
1. Proses perubahan yang cepat di bidang ekonomi, yaitu dari kegiatan ekonomi agraris ke ekonomi industri yang menggunakan mesin dalam mengolah bahan mentah menjadi bahan siap pakai. Atau dapat dikatakan jugadengan merubah cara kerja yang ada. Dari menggunakan tenaga kerja manusia menjadi menggunakan mesin.
2. Revolusi Industri ditandai dengan akibat-akibatnya yang Revolusioner dalam kehidupan ekonomi, politik, dan social.


Sebelum adanya alat-alat mekanis dan otomatis, masyarakat Erofa bekerja dengan menggunakan alat-alat manual dan masih menggunakan kecepatan kedua tangan dan kaki. Contohnya seperti : cagkul, parang, sekop, gergaji, pisau, pengukur, palu, penenun, pemintal, jala, dan lain sebagainya. Oleh karenanya, jika kedua tangan dan kaki tidak bekerja dengan optimal, maka kinerja alat-alat tersebut pun tidak maksimal.

Pada masa Revolusi Industri, peralatan-peralatan tersebut sudah jarang digunakan. Karena sudah ditemukannya alat-alat yang menggunakan mesin. Yang secara otomatis digerakan oleh Mesin Uap yang berbahan bakar batu bara.

Sebelum adanya Revolusi Industri, dalam berdagang masyarakat Erofa masih menggunakan sistem Barter. Dan kegiatan produksinya pun masih dilakukan dirumah-rumah. Di Prancis kegiatan ini dikenal dengan istilah Gilda, yaitu bengkel kerja dan pusat usaha.

Latar Belakang Revolusi Industri.

Revolusi Industri berawal di Negara Inggris, faktor-faktor yang mendorong perkembangan Revolusi Industri di Inggris terbagi menjadi dua, yaitu Faktor External dan Faktor Internal.

Hal yang termasuk Faktor external adalah terjadinya Revolusi Ilmu Pengetahuan pada abad ke 16. Para ilmuan seperti Francis Bacon, Rene Decartes, Galileo Galilei, Copernicus, Kepler, dan Issac Newton banyak bermunculan. Mereka menemukan alat-alat yang sangat berguna bagi kemajuan tingkat kehidupan manusia.

Adapun Faktor-faktor yang termasuk faktor internal adalah sebagai berikut :
1. Keamanan dan politik dalam Negara Inggris yang mantap
2. Berkembangnya kegiatan wiraswasta di Inggris
3. Munculnya minat yang luar biasa dari masyarakat Inggris terhadap industri manufaktur
4. Inggris memiliki jajahan yang sangat luas sehingga mudah dalam memperoleh bahan mentah dan daerah pemasaran
5. Inggris kaya akan sumber alam, berupa batu bara dan biji besi
6. Paham ekonomi liberal mulai muncul
7. Munculnya Revolusi Agraria dan,
8. Kegiatan perekonomian berkembang dengan pesat.

B. Revolusi Hijau

Revolusi Hijau adalah suatu revolusi produksi biji-bijian dari hasil penemuan-penemuan ilmiah berupa benih unggul baru dari berbagai varietas. Revolusi Hijau didasari oleh berbagai masalah yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah akibat pertambahan jumlah penduduk yang pesat dan bagaimana mengupayakan peningkatan hasil produksi pertanian.

Gagasan mengenai Revolusi Hijau bermula dari hasil penelitian dan tulisan Thomas Robert Maltinus (1766 - 1834) yang mengemukakan bahwa masalah kemiskinan dan kemelaratan adalah masalah yang tidak bisa dihindari oleh manusia. Kemiskinan dan kemelaratan terjadi karena pertumbuhan penduduk dan peningkatan produksi pangan yang tidak seimbang.

tulisan Thomas Robert Maltinus menimbulkan pengaruh di Erofa dan Amerika Serikat, dengan munculnya gerakan pengendalian pertumbuhan penduduk dengan cara pengontrolan jumlah kelahiran dan gerakan usaha pencarian dan penelitian bibit-bibit unggul dalam bidang pertanian. Revolusi Hijau menjadi usaha besar untuk meningkatkan produksi pangan di daerah-daerah atau Negara miskin di dunia.

Perkembangan Revolusi Hijau
Perkembangan tekhnologi alat-alat pertanian mempengaruhi perkembangan Revolusi Hijau. Seperti penggunaan alalt-alat pertanian modern. Seperti, mesin bajak, alat penyemprot hama, dan mesin penggiling padi, yang merupakan salah satu faktor dalam peningkatan produksi pertanian.

Perkembangan Revolusi Hijau selanjutnya terjadi pada pasca perang Dunia 11. Tidak bisa dipungkiri bahwa perang Dunia 11 membawa akibat terhadap langkanya atau hancurnya daerah-daerah pertanian terutama di Erofa. Hancurnya daerah pertanian menyebabkan menurunnya produksi pertanian. Oleh sebab itu, sebagai upaya meningkatkan produksi pertanian terus digalakan melalu :
• Pembukaan lahan-lahan pertanian baru
• Mekanisasi pertanian
• Penggunaan pupuk-pupuk baru
• Mencari metode yang tepat untuk memberantas hama tanaman.

Di samping itu, usaha untuk menemukan varietas-varietas unggul yang sesuai dengan daerah tempat produksi hasil pertanian, penelitian juga diikuti dengan upaya pemulihan tanah, yaitu mulai dari pengolahan tanah, pemupukan pestisida, herbisida, dan fungisida.

C. Revolusi Biru
Belajar dari keberhasilan dan kegagalan Revolusi Hijau dan faktor lingkungan strategis saat ini, gerakan nasional Revolusi Biru harus dirumuskan dalam blue print pemerataan dan kelestarian lingkungan untuk pertumbuhan.

Visi dari gerakan Revolusi Biru adalah strategi pengembangan aquabisnis berbasis masyarakat dan berwa-wasan lingkungan, guna mempercepat pembangunan sektor kelautan dan perikanan. Blue print tersebut menempatkan keadilan sosial ekonomi dan kelestarian lingkungan sebagai prinsip-prinsip gerakan, karena di dalamnya termuat gagasan pemberdayaan, kemitraan, dan pembangunan berkelanjutan. Artinya, melalui prinsip-prinsip keadilan terserbut nelayan dan pembudidaya ikan menjadi target pemberdayaan, mengingat mereka adalah kelompok masyarakat miskin yang hampir tidak tersentuhkan oleh pembangunan.

Kemitraan adalah strategi untuk mengikat partisipasi nelayan tradisional dengan usaha swasta. Aspek lain dari kemitraan adalah bahwa Revolusi Biru tidak hanya berkutat dalam persoalan meningkatkan produksi. Aspek pengolahan dan penanganan pasca panen serta pemasaran produk harus pula diperhitungkan. Pengelolaannya dilaksanakan secara terintegrasi dan menyeluruh. Para nelayan dan pembudidaya ikan akan menitik beratkan pada kegiatan produksi, sedangkan swasta berfokus pada aspek penanganan pasca panen dan pemasaran.

Dalam gerakan Revolusi Biru, justru orientasinya adalah bagaimana menembus pasar internasional, sehingga fluktuasi harga di pasar internasional yang dijadikan orientasi bagi pengembangan produk-produknya. Menyadari hal tersebut pemberdayaan dan kemitraan harus mampu membentuk kesadaran dan melibatkan partisipasi aktif stekoholder tentang pentingnya pelestarian lingkungan pada proses ini, aspek otonomi daerah menjadi signifikan, yakni pengelolaan dan pelestarian lingkungan dan sumber daya manusianya harus melibatkan masyarakat pesisir, Baik dalam perencanaan dan pelaksanaan pelestarian itu.

Dan tantangan Revolusi Biru banyak ditentukan sejauh mana pemerintah dalam mendukung secara terencana dan menyeluruh Revolusi Biru tersebut.


DAFTAR PUSTAKA1. Ade Rachmawati, J. B. Soesetiyo, Imam Hendarto, dan Genuk Christiastuti. “Pemicu Enam Revolusi Biru”
2. Badrika, I Wayan. “Sejarah Nasional Indonesia Dan Umum” Erlangga Jakarta 1991
3. M Fadli Hasan dan Muh Ramli Ayubar. “Dari Revolusi Hijau ke Revolusi Biru”
4. Supriatna, Nana. Drs, M.Ed. “Sejarah Nasional Indonesia dan Umum” Grafindo Media Pratama Jakarta 2002

Rabu, 24 September 2008

MAKALAH PENDEKATAN SOSIALOGI

PERKEMBANGAN HISTORIES PENDEKATAN SOSIOLOGI

Dipertengahan abad 20 sosiologi melihat bahwa agama memiliki signifikansi marginal dalam dunia sosiologi, sehingga muncullah agam dalam beragama kontek global, agama kembali memperoleh signifikansi sosiologis baik dalam masyarakat global, agama kembali memperoleh signifikansi sosiologis baik dalam masyarakat berkembang maupun yang sudah maju. Artinya sosiologis terhdapa agama mulai keluar garis tapi memfokuskan perhatiannya disekitar persoalan ekologi dan perwujudan gerakan social dan protes social, globalisasi nasionalisme dan postmodernitas.



Comte, Emile Durkheim menawarkan evolusioner tentang masyarakat manusia, dari kesukuan menjadi republik dari magis ke rasional.

Durkheim memfokuskan sos-agama adalah fungsi yang dimainkan agama untuk menjembatani ketegangan itu dan dalam menghasilkan solidaritas social. Robert bellah dalam Habits of the heart menegaskan peran public dan peran privat agama.

Karl Marx, fungsi utama agama dalam menghasilkan keterenaturan bukanlah salah satu pencipta komitmen terhadap suatu proyek social bersama tetapi lebih merupakan pembernaran atas aturan ketidakadilan dan kekerasan yang sangat jahat dari kaum feudal terhadap kaum petani atau dari kaum kapitalis terhadap pekerja.

Teori marxis menjelaskan hubungan antara relasi – relasi kekuatan dalam wilayah ekonomi, budaya, dan sistem symbol yang melegitimasi relasi-relasi kekuatan itu, baik yang mengambul bentuk ikon – ikon (Patung, Orang Suci) kesamaan tradisional maupun ikon-ikon modern konsumersilisme massa.
Weber berpendapat bahwa agama bukan semata-mata produk social, tetapi lebih merupakan sumber ide dan praktek yang transendenkan dunia sosial yang imanen dan oleh karena itu dapat menimbulkan akibat terhadap dunia social dengan cara independent dan tidak dapat diramalkan.

KARAKTERISTIK DASAR PENDEKATAN SOSIOLOGIS

Kategori – kategori sosiologis, meliputi :

• Stratifikasi social, seperti kelas dan etnis
• Kategori biososial, seperti sex, gender, keluarga, perkawinan dan usia.
• Pola organisasi social; politik, ekonomi, sistem pertukaran dan birokrasi.
• Proses social, seperti fomasi batas, relasi intergrup, interaksi personal, penyimpanan dan globalisasi.

Teoritas sosialogis, menggunakan paradigma dan konseptualitas analogis tentang dunia social yang didasarkan pada tradisi sosiologis maupun refleksi atas data empirism yaitu melalui investigasi histories dan penelitan social kontemporer. (panel, kuantitatif dan kualitatif).

Pendekatan kulitatif dalam sos-agama didasarkan pada skala besar survai terhadap keyakinan-keyakinan keagamaan, nilai-nilai etis dan praktek-praktek ritual.

Pendekatan kualitatif dalam panel social terhadap agama didasarkan pada studi komunitas-komunitas keagamaan dalam skala kecil dengan metode penyelamatan pertisipan / wawancara.

Teoritas sosialogis tentang sekte sangat berbeda dari istilah sekte yang umumnya digunakan. Bagi Troeltsch “sekte” mengindikasikan suatu tipe organisasi keagamaan yang muncul sebgai pemisah dari organisasi mapan tetapi Troeltsch bukan berarti sekte itu rendah melainkan sekte itu dikuatkan oleh perubahan internal.

Karakteristik sekte-sekte yang dipertentangkan oleh para sosiologi :
• Anggotanya berasal dari kelas rendah dan memiliki kecenderungan egalitarianisme
• Suatu doktrin yang berbeda yang dipahami oleh pendiri sekte itu.
• Penolakan terhadap pimpinan, dogma dan praktek social dari agama yang mapan.
• Keanggotaan didasarkan pada pilihan, bukan perwarisan.
• Ikatan yang kuat dan keniscayaan komitmen.
• Nilai-nilai moral dan gaya hidup alternative.
• Ketidaksediaan mengakomodasikan gerak-gerak social.

Kategori organisasi kunci lainnya dalam sosiologi agama adalah gerakan keagamaan baru (New Religious Movement-NRM). Pada abad modern ini berkembang NRM bukan merupakan pemisah sekterian dari gereja-gereja atau agama-agama yang ada, tetapi gerakan-gerakan yang diilhami oleh individu kharismatik tertentu/sekumpulan ajaran dari suatu latar religius cultural yang diambil dari bagian dunia lain.

PERSOALAN DAN PERDEBATAN
Perdebatan dalam sosiologi agama kontemporer adalah antara pebela dan penentang tesis skularisasi yang mendominasi teori social sejak Comte dan Duncheim.

Indicator-indikator dalam mundurnya pengaruh agama:
• Kemunduran partisipasi dalam aktifitas dan upacara-upacara keagamaan
• Kemunduran keanggoraan keagamaan
• Kemunduran pengaruh institusi-institusi keagamaan dalam kehidupan social.
• Berkurangnya otoritas yang dimiliki dan menurunnya keyakinan terhadap ajaran-ajaran keagamaan
• Berkurangnya ketaatan privat, doa dan keyakinan
• Kemunduran otoritas tradisional yang didukung oleh nilai-nilai moral secara keagamaan
• Berkurangnya signifikansi social dari professional- professional keagamaan, kekurangan dalam lapangan kerja.
• Privatisasi internal terhadap ritual-ritual dan sistem keyakinan keagamaan.

Pergeseran dari pedalam kepada urban dari pertanian kepada industrial melibatkan kompleksifikasi organisasi masyarakat yang oleh para sosiolog disebut dengan “diferensiasi social”.
Berkaitan dengan proses difensiasi social ini adalah apa yang disebut Bryan Wilson dengan “Societalisasi”. Masyarakat pra modern berciri khas komunitas kecil masyarakat modern dicirikan proses social yang tidak dikenal.

Sosietalisasi diserai dengan individualisasi agama diprovatisasikan dan diindividualisasikan.

Weber mengatakan bahwa dinamika social mendasar yang menghasilkan sekularisasi adalah rasionalisasi meningkatnya meditasi teknolosi elektronik dalam pertukaran social adala contoh-contoh rasionalisasi.
Prediksi sosiologis mengenai kematian agama dapat menjadi bukti bias anti religius dalam sosiologi agama.

TEMUKAN MAKALAH/ARTIKEL YANG ANDA CARI DI SINI:
Custom Search

Posting Terkini