Jumat, 26 September 2008

DAYATAHAN TERHADAP KECENDERUNGAN PRILAKU PENYIMPANGAN SOSIAL

Jika analisa ini benar, alasan mengapa LSD (Lysergic Acid Diethylamide) semacam obat bius yang keras nampaknya tidak dianggap sebagai masalah pada saat ini, bukannya disebabkan karena sedikit orang yang menggunakan LSD melainkan karena media masa dan pemerintah tidak lagi menganggap penggunaan LSD sebagai masalah sosial yang berakibat fatal bagi individu dan masyarakat.

Kecanduan Narkotika (obat bius)
Pada anggapan sebagian masyarakat, aspek yang paling penting bagi penyalahgunaan obat-obatan adalah kecanduan narkotika. Sebelum kita menilai artinya, sebaiknya kita melihat terlebih dahulu sifat dasar dan penyebabnya.

Istilah kecanduan narkotika merujuk kepada kondisi dimana seseorang memiliki keinginan yang sangat kuat terhadap jenis obat-obatan tertentu. Obat-obatan yang paling sering dipakai biasanya adalah heroin, morphin, codeine, dan methauone. Para pecandu narkotika memperlihatkan dua ciri pokok yaitu penolakan dan daya tahan –dan dua hal inilah membedakannya dari pengguna mariyuana, dan orang-orang yang seringkali menyebut mereka sebagai pecandu.

Penolakan
Para pecandu narkotika menunjukan sindrom penolakan ketika mereka berhenti memakai obat-obatan. Sindrom penolakan merujuk kepada sakit seperti keluar air mata yang berlebihan, keluar cairan dari hidung, keringat yang berlebihan, dan menguap. Gejala yang berhubungan dengan penolakan termasuk juga mual-mual dan muntah-muntah, diare dan kejang-kejang (yang disertai dengan menendang-nendangkan kaki).

Gejala penolakan mencapai puncaknya 48 sampai 72 jam setelah terakhir kalinya seseorang itu menggunakan obat-obatan tertentu, berkisar dari yang yang sangat ringan hingga yang sangat berat. Pengaruhnya bergantung pada banyak sebab, diantaranya pada jenis obat-obatan yang mereka gunakan, berapa lama mereka menggunakannya, dan riwayat kesehatan pengguna. Televisi dan film-film biasanya melukiskan sindrom penolakan dalam bentuk yang paling umum.

Seorang ahli berpendapat bahwa pengaruh perasaan senang yang disebabkan oleh pemakaian obat-obatan bukanlah faktor yang memotivasi seseorang sehingga ia terus menggunakan narkotika namun lebih disebabkan karena mereka sebenarnya ingin menghindari penolakan. Meningkatnya kecanduan bukan dikarenakan perasaan senang yang berasal dari penggunaan obat-obatan itu melainkan karena para pengguna menyadari bahwa penolakan sangatlah tidak menyenangkan dan menyengsarakan. Dan pengaruh ketiadaan obat-obatan itu dapat dihilangkan dengan menambahkan dosisnya. Sebenarnya, pengaruh perasaan bahagia yang disebabkan karena penggunaan narkotika tidaklah bertahan lama, karena narkotika tidak menghasilkan perubahan mood (keadaan jiwa) pada diri seseorang atau tidak juga menghasilkan perubahan yang hebat pada persepsi seseorang terhadap kenyataan yang sebenarnya. Biasanya opium (obat yang mengandung candu) memberikan perasaan nyaman. Dan biasanya hal ini terjadi jika seseorang itu sedang depresi, kelelahan ata sedang bemasalah.

Daya tahan
Daya tahan para pecandu narkotika terhadap obat-obatan cenderung meningkat dari waktu kewaktu. Dengan kata lain, semakin lama ia menggunakan obat-obatan itu maka kecenderungan jumlah obat-obatan yang digunakannya pun semakin bertambah. Terdapat perdebatan akan apakah tubuh sebenarnya membeikan daya tahan psikologis terhadap obat-obatan, sehingga, keinginan untuk mengkonsumsi jumlah narkotika yang semakin bertambah itu sebenarnya ialah pengaruh psikologis. Terdapat bukti yang mendukung pendapat itu. Yaitu, ketika seseorang memakai narkotika, ia menjadi sadar akan permulaaan gejala penolakan dan hingga akhirnya ia menambahkan dosisnya dari waktu kewaktu. Tambah lagi, pengaruh perasaan gembira pada penggunaan narkotika sepertinya dialami ketika seseorang tidak mengkonsumsi narkotika selama bebarapa waktu. Pengguna yang baru-baru saja mengalami kesulitan akan meningkatkan dosisnya untuk mengalami perasaan bahagia pada penggunaan yang kedua.

Pada akhirnya narkotika adalah berbahaya, seseorang yang kecanduan kemungkinan dirinya akan termotivasi untuk menambahkan dosis ketika obat-obatannya itu tersedia.

Hipotesis yang mengatakan bahwa daya tahan merupakan fenomena psikologis memperoleh dukungan dari fakta bahwa “pecandu yang menggunakan jumlah yang besar mungkin memiliki sejumlah luka pada sebagian tubuhnya dan ia tidak menyadarinya.

Biar bagaimanapun juga, dikarenakan daya tahan, kecanduan narkotika dapat melenyapkan gairah dan malahan menjadi kebiasaan yang sangat mahal dan tak tertahankan.

Alasan-alasan mengapa seseorang menggunakan narkotika secara umum sama halnya dengan mengapa seseorang melakukan penyalahgunaan jenis-jenis obat-obatan yang lain; ada beberapa kemungkinan yang berasal dari faktor sosial dan psikologis yang menyebabkan seseorang kecanduan narkotika.

Oleh karena itu, dalam bebaerapa tahun ini, para ahli psikologi dan para psikiater telah menjelaskan kecanduan dalam hubungannya dengan nilai individual dalam mengatasi ketegangan emosi, kegelisahan dan frustasi. Suatu contoh, “pengguna…. Dilihat sebagai seseorang yang menderita gangguan emosi yang menerima mekanisme penyesuaian yang tidak disenangi,” “penyebab kegelisahan dan ketegangan yang dirasakan oleh pecandu narkotika itu banyak dan beragam, termasuk didalamnya masalah pengendalian diri, dan ketidakmampuan untuk berperan sebagai orang dewasa dan juga gannguan perilaku seks.

Para ahli sosiologi pun telah menyatakan bahwa, untuk memahami kecanduan narkotika, kita harus memahami kebudayaan pada masyarakat kita. Suatu contoh, analisa yang berasal dari Marlon tentang penyebab perilaku menyimpang (lihat bab 2) membawa kita kepada teori bahwa, pecandu narkotika terjebak dalam nilai penghargaan yang tinggi terhadap kesuksesan material dalam masyarakatnya dan kemudian ia mengalami kesulitan dalam menghadapi dan menyesuaikan dirinya dengan nilai tersebut. Jadi, pecandu itu merupakan seseorang yang menggunakan narkotika sebagai jalan keluar agar keadaan yang tidak menguntungkan dalam posisi sosialnya dimasyarakat itu menjadi lebih dapat ditolerir.

Pada awal tahun 1950, kecanduan dihubungkan dengan kontrol sosial yang lemah, sebagai contoh, rata-rata kecanduan narkoba biasanya tinggi pada daerah-daerah yang kumuh dan daerah-daerah yang didiami oleh kaum minoritas. Fenomena ini menyatakan bahwa kecanduan narkotika kemungkinan disebabkan oleh gagalnya mekanisme kontrol sosial yang sedianya menakut-nakuti penyalahgunaan narkotika dan juga disebabkan karena tersedianya obat-obatan itu. Lebih jauh lagi, dalam wilayah kota yang memiliki rata-rata penyalahgunaan obat-obatan, kebudayaan masyarakat setempat seringkali mendorong penggunaan narkotika dan memberikan kesadaran kepada mereka akan pemerolehan uang dari penjualannya.

Kecanduan narkotika sebagai masalah sosial
Keadaan para pecandu narkotika dan juga keluarga mereka biasanya adalah jenis kehidupan orang yang susah dan miskin. Para pecandu menyumbang cukup banyak pada kasus-kasus kriminal, para ahli menyatakan bahwa kecanduan narkotika merupakan masalah sosial yang serius karena masyarakat menilainya demikian. Pada bagian ini, kita akan melihat dua faktor yang mengimbangi seberapa besarnya kecanduan narkoba sehingga ia dianggap sebagai masalah sosial.

Dengan kritis, pengguna dan penyalahguna (orang yang menyalahgunakan obat-obatan) dipisahkan oleh garis psikologi yang jelas. Apapun alasannya, para penyalahguna adalah mereka yang lebih sering berhasil melewati penderitaan berat yang disebabkan karena depresi, kegelisahan dan frustasi ketimbang para pengguna…

Dari laporan yang didapatkan, para penyalahguna obat-obatan biasanya merasa terasing, tidak nyaman berada dengan kawan sebayanya, den mereka merasa seperti masyarakat kelas dua. Mereka juga merasa ditinggalkan, sendiri dan mereka biasanya memiliki banyak masalah baik disekolah maupun dirumah. Para penyalahguna obat-obatan yang kabur dari rumah lebih banyak dibandingkan dengan para pengguna (06 persen sampai 37 persen). Dan penyalahguna yang tidak lulus dalam belajarnya lebih banyak jika dibandingkan dengan pengguna (30 sampai 16 persen), diusir dari sekolah (70 sampai 41 persen) atau merusak barang-barang dengan sengaja (62 sampai 43 persen). Banyak pelajar yang menggunakan obat-obatan yang menunjukan ciri-ciri gejala penyalahguna obat-obatan: keasyikan dengan obat-obatan, hubungan yang eksklusif dengan para pengguna yang lain, kerusakan pada mood mereka, pandangan negatif terhadap diri dan ketidakmampuan berperan sebagai pelajar.

Para pengguna dari kalangan mahasiswa, dalam hal-hal tertentu menunjukan fakta bahwa mereka memiliki hubungan yang berbahaya dengan penyalahgunaan obat-obatan. Oleh karena itu para pengguna yang berusia sekolah akan beresiko menjadi penyalahguna obat-obatan pada masa yang akan datang. Para pengguna dari kalangan pelajar ini beragam dan menunjukan bahaya yang bermacam-macam seperti merusak barang-barang, kabur dari rumah dan diusir dari sekolah.

Pertama, biasanya orang-orang fmv kecanduan terhadap narkotika. Penilaian yang lain mengatakan bahwa jumlah pecandu narkoba di Amerika serikat berada diantara ‘<(>(), ()()() dan ().()1)(). Angka ini terlihat besar namun mereka kalah jika dibandingkan rata-rata 10 juta peminum alkohol di Amerika serikat dan jutaan orang yang menderita karena penyakit lemah mental. Keadaan sakit karena banyak minum alkohol dan penyakit mental biasanya tidak ada hubungannya dengan tindak kejahatan namun berpengaruh pada kerusakan diri seseorang, keluarga dan masyarakat. Tambah lagi, terdapat bukti yang menyatakan bahwa penggunaan narkotika dalam jangka waktu yang lama memiliki pengaruh yang nyata pada kesehatan fisik tidaklah seperti pengaruh pada penggunaan rokok dan alkohol. Resiko kesehatan pada penggunaan narkotika tidak datang dari narkotika itu sendiri melainkan dari obat-obatan yang sebelumnya telah terkontaminasi, jarum suntik yang tidak steril, overdosis dan lain-lain.

Kedua, pola perilaku merusak para pengguna narkotika mempengaruhi kelas-kelas sosial dan wilayah mereka. Pada faktanya, anggapan khalayak umum bahwa kecanduan merupakan masalah sosial adalah terlalu tinggi. Kecanduan narkotika sampai jumlah tertentu hanya merugikan para pendduk minoritas yang berada disuatu kota.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TEMUKAN MAKALAH/ARTIKEL YANG ANDA CARI DI SINI:
Custom Search

Posting Terkini